Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan dalam dirinya. . .
Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa gairah, romantika dan masih tetap peduli padanya. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup, jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintai lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya. . .
Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu. Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang dihatinya, tapi jika tidak berbahagialah karena cinta tumbuh dihatimu. . .
Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita miliki sampai kita kehilangannya, tapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya. . .
Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat. Kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu. . .
Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyusut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi. . .
Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tapi lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah punya keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya. . .
Jangan tertarik pada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapt menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. . .
Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang, tapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang. . .
She never really had a change. . . On that faith full moonlit night. . . Sacrifice without a figth. . . A victim of circumstance . . .
Now that I become aware. . . And I have exposed this tragedy. . . A sadness grow inside of me. . . It all seems so unfair. . .
I am learning all about my life. . . By looking through her eyes. . .
Just beyond the curch yard gates. . . Where the grass is over grown. . . I saw the writing on her stone. . . I felt like I would suffocate. . .
In loving memory of our child. . . So innocence eyes open wide. . . I felt so empty as I cry. . . Like part me had died. . .
I am learning all about my life. . . By looking through her eyes. . .
And as her image wandered through my head. . . I wept just like a baby as I lay awake in bed. . . And I know what is like to lose someone you love. . . And this felt just the same. . .
She was not given any choice. . . Desperation stole her voice. . . I have been given so much more in life. . . I have got a son I have got a wife. . .
I had to suffer one last time. . . To grieve for her and say goodbye. . . Live the anguish of my past. . . To found out who I was at last. . .
The door has open wide. . . I am turning with the side. . . By looking through her eyes. . .
Waktu masih kecil gw punya cita-cita yang bagi gw itu keren banget. Gw juga heran kenapa gw suka banget sama tuh profesi. Gw ngefans banget sama semua manusia yang kerjanya di udara. Yap, betul.
“Dendy, kalo udah gede cita-citanya mau jadi apa?” “. . . . .” (Gak dijawab) “Hayo, jadi apa?” “. . . . .” (Masih belum dijawab) “Jadi pilot ya?” “Tante perempuan apa laki-laki sih?”
Begitulah. Gw masih bingung bedain yang mana cowok, yang mana cewek waktu masih bayi. Gaklah, itu waktu gw belum sekolah.
Pas gw PlayGroup, gw pernah ikutan nari. Gw juga lupa kenapa gw bisa ikutan gitu, yang jelas semua penarinya cowok. Nama tariannya. . .aduh, gw lupa. Yang jelas reff lagunya kaya gini, “Dinding mbak dinding ooii dinding mbak dinding. . .” Terus ngulang sampe gw bete. Waktu itu belum kenal istilah bete sih emang, yah bosenlah. Gw bingung, kenapa harus dinding ya? Kenapa gak pintu? Tiang? Kursi? Atau buka gitu kek. Jadi nyanyinya berubah kaya gini, “Buka mbak buka ooii buka mbak buka. . .wooii bukain dong, Mbak! Cepetan! Mau pipis nih! Lama!”
Gw pake kostum serba warna merah. Baju sama celana merah. Topinya persis koki yang memanjang ke atas sepanjang tiang listrik. Gaklah. Gak panjang-panjang amat, sesuain sama tubuh gw yang masih PlayGroup. Bener, topinya warna merah juga. Terus ini yang paling parah. Masa gw disuruh pake kumis palsu!? Persis banget kaya lele! Warna item, terus ada dua, kanan sama kiri! Gw sih sempet mikir, jangan-jangan itu yang menyebabkan gw jadi tumbuh kumis beneran pas 5SD. Tapi rupanya gak tuh. Temen-temen gw yang nari semuanya pake kumis juga, tapi pas 5SD-nya gak tumbuh kumis. Jadi kelainan ada pada diri gw.
Sempet mikir sih, apa gw gedenya jadi penari ya? Gak banget deh kayanya. Apalagi setiap nari di panggung pake kumis palsu gitu. Kumis beneran aja udah jelek apalagi yang palsu? Yah, paling gak gw udah pernah nyoba yang namanya nari deh.
Nah, bokap gw kebetulan bisa gambar. Gw sih gak pernah minta diajarin, karena gw tahu bokap gw bakal bilang apa.
“Pa, ajarin gambar dong?” “Kamu mau gambar?” “Iya.” “BUAHAHAHAHAHA!” “Kok ketawa, Pa?” “Kamu aja bikin angka 6 kaya angka 9. Kalo gambar kepala kaya kelapa lagi.”
Gitu deh. Maklum masih 2SD. . .
Temen gw ada yang jago gambar. Hafiz namanya. Ini kesempatan gw belajar sama dia. Gw selalu minta dia gambar di kertas, terus gw bawa pulang buat belajar. Karena waktu itu lagi “in”-nya DragonBall jadi mintanya gambarin Son Goku atau gak Bejita. Gw minta gambarin Goku sampe super saiya delapan. Bener banget, gw dibo’ong-bo’ongin sama temen gw itu. Orang cuma sampe super saiya empat.
Setelah gw cukup bisa gambar, sekarang dipraktekin dibuku. Yup, gw mulai belajar buat komik kelas 4SD. Awal mulanya gw bingung banget. Gw biasa gambar satu orang aja satu kertas HVS, ini disuruh gambar dibuku terus per kotak-kotak lagi. Yaudah, gw coba bikin aja dulu. Eh, rupanya gw berhasil! Temen-temen gw pada terhibur baca komik buatan gw waktu itu. Gw seneng banget.
“Eh, ini komik buatan aku.” “Mana?” “Nih.” “. . . . . .” (Temen gw lagi baca) “. . . . . .” (Ya, gw juga diem ajalah) “Hahahahahaha!” “. . . . . .” (Gw seneng karena bisa bikin dia terhibur) “Den, gambar kamu bisa lebih jelek lagi gak? Kocak tauk!” “. . . . . .” (Anjrit)
Gara-gara dikatain jelek, gw jadi makin giat belajar gambar. Gambarnya juga itu-itu aja, jadinya sampe sekarang gw cuma bisa gambar kartun anime. Kalo gw gambar komik lagi sekarang udah gak diketawain lagi deh. (Alhamdulillah. . .)
Apa gw jadi pelukis aja ya? Penah muncul niat gw kaya gitu, tapi. . . entar dulu deh!
Bokap gw bisa main keyboard juga. Waktu kecil gw selalu dipaksa buat main keyboard sebelum temen gw main ke rumah gw atau sebaliknya. Gw sampe nangis-nangis bilang “Gak mau” tapi tetep aja harus. Lagu yang dimaninin Balonku, Cangkul-Cangkul, Bintang Kecil, dll. Cape, deh.
Gw mikir gimana supaya gw gak dipaksa main keyboard lagi. Gw lihat di tv kayanya orang kalo main gitar tuh keren. Gw tahu bokap gw gak bisa main gitar, jadi bayangan gw kalo gw minta dibeliin gitar pasti gak ada yang ngajarin terus gak ada alasan buat maksa gw main gitar, hehehe.
Gak tanggung-tanggung, gw langsung dibeliin gitar listrik. Gw seneng karena bokap gw mudah masuk perangkap gw. Trik licik gw berhasil satu langkah.
Pas udah nyampe di rumah, bokap gw langsung colokin gitar ke ampli dan cek sound. Tadinya gw mikir trik ini sampe tiga langkah, tapi dua langkah aja kayanya gak nyampe. Kenapa? Bokap gw juga bisa main gitar!
Gw nangis-nangis lagi dipaksa main gitar (Lebay ah). Masih dasar emang. Pokoknya bokap gw ngajarin main gitar sesuai dengan kemampuannya.
Rizal (temen baik gw) rupanya juga suka sama musik. Dia abis dibeliin gitar listrik juga. Karena di rumah dia gak ada yang bisa main musik, jadi larinya ke gw, lebih tepatnya bokap gw. Gw heran kenapa dia bisa suka sama gitar. Dia sampe beli buku dasar-dasar gitar buat dipelajari di rumah. Bokap gw mau aja lagi ngajarin anak orang, gw jadi dicuekin. Jadi setiap Rizal ke rumah gw terus ngeliat bokap gw lagi main gitar, si Rizal jadi belajar sama bokap gw sampe lupa kalo kita lagi main PS di kamar.
Dengan perasaan cemburu (Halah. .) alias gak mau kalah, gw jadi ikutan belajar juga. “Gw harus jadi gitaris no. 1!” , gitu pikir gw waktu lagi boker di kamar mandi. Gw harus bisa kalahin bokap gw! Gw harus bisa kalahin Rizal!
Kakaknya Hafiz rupanya main gitar juga. Pas gw lagi main ke rumah Hafiz ngeliat kakaknya itu lagi main gitar di kamarnya, ckckck jago banget! Gw pengen kaya dia. Tangannya gak kelihatan lagi kalo lagi main. Gw juga bingung dia lagi mainin lagu apaan yang penting judulnya “keren”, gak kaya bokap gw yang ngajarinnya lagu Balonku, Bintang Kecil, dll. Heran gw, gak keyboard gak gitar lagunya sama aja. (Soalnya bokap gw bisanya ngajarin lagu-lagu itu doang)
Gw minta ajarin sama kakaknya Hafiz yang bernama Putra. Gw manggilnya bang Putra.
“Bang! Ajarin biar mainnya bisa cepet kaya Abang dong!” “Oh, kaya gini?” “. . . .” (Bujut, main apaan tuh? Keren dagh. . .) “Iya kaya gitu juga boleh.” “Yaudah, tapi sebelumnya kaya gini dulu.” “Gimana?”
Entah kenapa gw malah diajarin main kunci bukannya melodi. Gw diajarin supaya bisa ganti-ganti kunci dengan cepat. Tapi itu sangat berguna juga rupanya. Paling gak gw udah satu langkah di depan Rizal sekarang.
Makin lama gw belajar gitar, makin suka gw. Gak nyadar gw kalo rupanya udah belajar sampe jauh begitu. Gw udah jauh ngelewatin Rizal. Bokap gw cuma geleng-geleng kepala aja, udah gak ngerti lagi gw lagi mainin lagu apaan. Ya, gw bales manggut-manggut aja.
Kepikiran jadi gitaris juga sih. Tapi? Entar dulu deh! Hehehe. . .
Setelah gw pindah rumah dari Kalimantan ke Jakarta karena bokap gw pensiun kerja, gw akhirnya bertempat tinggal di Tangerang-Banten. Gw masih belum biasa tinggal di Jakarta. Maklumlah bahasa anak Kalimantan kan masih “aku-kamu”, gak kaya anak Jakarta yang “loe-gue”. Suasananya juga jelas beda, di Kalimantan tempat gw kalo ke sekolah selalu ada bis yang siap jemput lewat depan rumah. Kalo di Jakarta? Naik angkot.
Di Jakarta, tepatnya di Ciledug ini gw bingung mau sekolah dimana. Ya, gw kan ke Jakarta dulu cuma setahun sekali, itupun pas liburan sekolah. Ya istilahnya anak desa bangetlah. Hahaha . .(Gak ada yang ketawa, Den).
Gw punya sodara namanya Aldo. Dia sekolah di SMP Budi Luhur. Yah, mau gak mau gw di sekolahin di situ juga, disamping alasan sebenarnya deket rumah. Hahaha..(Di bilangin gak ada yang lucu ngeyel dagh) .
Awal mula gw masuk Budi Luhur itu gw celingak-celinguk sendiri. Padahal sebelumnya gw udah pernah ke BL buat tes masuk, tapi itu emang cuma satu kali, jadinya sekarang pas masuk sekolah beneran gw lupa kelas gw dimana. Gw langsung naik ke lantai tiga, dengan begonya ternyata itu lantai untuk anak kelas satu. Gw turun ke lantai dua. Di lantai ini tetep gw gak menemukan kelas 2C yang rupanya baru aja gw lewatin. Yaudah, gw turun lagi ke lantai satu. Gw bingung dan panik abis. Mau tanya anak yang lewat, gw takut. Takut anak yang gw tanya lari terbirit-birit gara-gara ngeliat kumis gw yang kaya lele.
Eh, si Aldo datang! Gw bagai orang yang menang undian 200 juta. Gw jingkrak-jingkrak kegirangan di tempat sampe lupa kalo gw udah lepas celana, lepas baju. Gaklah. Pada saat itu, Aldo satu-satunya manusia yang gw kenal di alam semesta ini. Gak kok, di BL doang. Akhirnya gw sama dia ke kelas 2C.
Inget banget gw, awal mula gw masuk kelas 2C, gw langsung duduk paling pojok kanan sama Aldo. Diem di tempat setiap istirahat, setiap belajar, pokoknya gak bangun-bangun dari tempat duduk. Biar kata pantat punya bisul segede jempol juga gak bakal pergi dari situ. Terus akhirnya gw dikenalin Aldo sama temen-temen sekelas. Sahabat pertama gw, Eros namanya.
“Nama lo siapa?” “Namaku. .Eh, nama gw Dendy!” “Hahaha. .Santai aja si, Den. Gw gak makan orang kok. Yah, kalo laper doang sih.” “Owh. ”
Gw masih kagok banget pake bahasa “loe-gw” yang sama sekali gak pernah digunain di Kalimantan. Paling waktu gw masih di Kalimantan, denger orang ngomong “loe-gw” cuma di sinetron.
Akhirnya hari demi hari gw belajar pake bahasa “loe-gw” dengan benar supaya jadi anak bangsa teladan.
Beberapa bulan setelahnya, gw jadi duduk sama Eros. Aldo jadi di depan gw. Nah, itu saat-saat dimana Eros mulai meracuni gw.
Gw baru ‘ngeh’ maksudnya. Susah banget bilang ada paha di kiri gw. Lagian paha siapa coba? Samping gw si David. Ngapain juga gw lihatin paha David? (Di bilang sama Eros itu jam10, David mah jam9. Bego lo Den.)
“Sori ya, Ros gw ngomongin kejelekan lo diblog gw.” “Iya, gak apa-apa, Den. Tulis aja lebih jelek lagi.” “Oke.”
Lama-lama gw terbiasa juga dengan kehidupan di Cikago (Ciledug Kampung Kebo).
Akhirnya gw punya temen udah lumayan banyak kaya David, Talissa, Devrina, Jonathan, Made, Kintan, Aldo, Handre, Eros, dll. Kita jadi sering kumpul bareng. Gw seneng banget mereka mau berteman sama orang yang SD-nya udah punya bulu kaki sama punya kumis kaya lele. Kita jadi sering pulang bareng naik angkot dan akhirnya sepakat ngebentuk geng bernama “JRT” yang singkatan dari “Jenggeboy Racing Team”.
Sampe sekarang gw tetep gak tahu kenapa mesti “Jenggeboy” padahal ada ceweknya (Talissa, Devrina, Kintan). Terus “Racing Team”-nya apa coba? Jelas-jelas naik angkot, gak ada yang naik motor. Apanya yang mau dibalap? Ya sudahlah, yang penting asal keren aja.
Pernah waktu itu gw jalan bareng sama anak-anak JRT. Gak semuanya emang. Cuma David, Eros, Aldo sama gw sendiri. Karena masih SMP, jadi mainannya mall yang gak terlalu mahal dulu deh. Metropolis jadi sasaran empuk.
Kalo kita berempat udah jalan ke mall, gak kurang gak lebih pasti cuci mata. Begitu sampe mall kita langsung ke toilet, terus cuci mata. Gaklah. Kita jalan-jalan keliling gak jelas sambil ngeliatin cewek-cewek yang lewat. Biasa itu kerjaan Eros sama David. Yah, gw juga sih, hehehe.
Setelah puas jalan-jalan gak jelas, kita akhirnya pulang. David dibonceng Eros terus gw dibonceng Aldo. Di jalan kita gak jauh beda sama di mall. Kalo ada cewek cakep lewat naik motor mesti dilihatin juga. Biasa kerjaannya Eros sama David. Yah, gw juga sih, hehehe.
Pas lagi asik-asiknya ngobrol di jalan sambil sesekali ngeliatin cewek, tiba-tiba Aldo panik sendiri. Dia kaya kebingungan nyari-nyari entah apa itu. Gw juga jadi penasaran deh.
“Awas, Do. . .Lihat depan juga. Lo nyetir.” “. . . . .” (Masih cari-cari sesuatu di sakunya) “Ngapain sih lo?” “. . . . .” (Masih nyari) “Do?” “Den . . . KUNCI MOTOR GW KEMANA YAK!?” “Hah? (Gw panik) “Mampus, kalo ketinggalan gimana!? Coba lihat kantong celana lo!”
Dengan amat sangat panik level 55 ala game RPG, gw cek masing-masing kantong celana gw. Tapi, rupanya tetep gak ada. Gw masih panik dan terus masukin ke segala kantong yang ada di pakaian gw. Duh, tetep gak ada rupanya. Terus gw diem 10 detik . . .Gak lama setelahnya gw pasang tampang muka kaya gini (-_-)”
“Ada gak di kantong celana lo, Den!?” “Do . . .” “Hmm!?” “Do . . .” “APAAN!? ADA GAK!?” “Kita lagi di motor.” “Oia.”
Akhirnya kita pulang dengan selamat dan sentosa. . .
If one day you feel like crying. . . call me I don't promise that. . . I will make you laugh, but I can't cry with you. . .
If one day you want to run away . . . Don't be afraid to call me I don't promise to ask you to stop, but I can't run with you
If one day you don't want to listen anyone. . . Call me I promise to be there for you, and I promise to be very quite
But if one day you call . . and these is no answer Come fast to see me Maybe I need you. . .
If I ever ignored you, I'm sorry. . .
If I ever made you feel bad or put yu down, I'm sorry. . .
I love you Don't forget that. . . Through bad times and good, I will always be here for you . . .
I'm sorry. . . For everything wrong I've ever done
I'm writing this because what if tomorrow never comes? What if never get to say good bye or give you a big hug? What if never get to say I'm sorry or I love you?
Because what if tomorrom never comes, I love you . . .
Gw punya cerita cinta jaman SD-SMP punya. Dulu waktu gw SD, gw tuh orangnya.. pendiem, anteng, kalem, nangis kalo dimarahin papa mama doang. Gw orangnya pemalu cuma di depan cewek aja. Kalo udah ketemu temen-temen cowok ya biasa aja. Masa sama cowok malu, kaya homo (emang SD udah ngerti homo?)
Waktu itu gw suka sama cewek, sebut aja namanya Santi. Kalo ditanya kenapa gw bisa suka sama tuh cewek, jawabnya "Ya gak tahu Kakak, aku kan masih kecil". Ya iyalah, waktu itu gw masih 5SD, suka ya suka aja mau gimana lagi. Gw sih yakin, Santi gak bakalan suka sama gw karena tampang gw yang O'on ini di tambah lagi 5SD aja gw udah punya bulu kaki.
Gw sekelas sama dia waktu 5SD. Setiap hari bagaikan kiamat (Lebay dah). Kenapa? Soalnya susah. Bukan! Soalnya, gw bakal ngeliat wajahnya terus setiap hari yang bikin gw gak berkutik. Duduknya dia tepat di samping gw yang makin bikin gw deg-deg'an terus. Kebetulan temen sebelah gw itu adalah temen baik gw sekaligus temen curhat (MasihSD dah bisa curhat?). Namanya Rizal. Dia itu udah ganteng, pinter, tinggi lagi. Ya, namanya aja sering main basket. Gak heran kalo banyak cewek yang suka sama dia. Gw sama Rizal sering curhat-curhatan gitu.
Pas kelas 6SD, gw sekelas sama Santi lagi. Kali ini kayanya udah menyebar gosip-gosip gw suka sama dia. Aduh, mampus gw. Perasaan gw gak enak banget asli. Kan gak lucu banget kalo diceng'in satu kelas cuma gara-gara masalah sepele kaya gini doang. Gw berharap cepet-cepet SMP dan gak sekelas sama dia lagi.
Si Rizal pernah main ke rumah gw. Terus pas lagi asik-asik main, ada telepon, gw yang angkat.
"Halo?"
"Halo, bisa bicara dengan dendy?"
"Oh ya, ini saya sendiri, siapa ya?"
"Dendy? ini aku Santi."
"Hah?"
Gw syok abis. Santi telepon gw? Mimpi apa gw! Gw deg-deg'an abis, gak tahu mau ngomong apa. Gw seneng campur takut. Seneng karena dia telepon gw, tapi takutnya dia tanya, "Den, bulu kaki kamu tambah berapa hari ini?"
Ya masa gw hitungin sih, capedeh. Perasaan gw yang seneng campur takut tadi gak bertahan lama. . .
"Den, di situ ada Rizal gak?"
"Oh, ada kok, San. Mau ngomong sama Rizal?"
"Iya! Boleh!"
Gw kasih segera teleponnya ke Rizal. Mereka ngobrol-ngobrol gak tahu apaan, yang bikin gw. . .tahulah maksud gw. Di situ Rizal bilang ke Santi.
"San, temen aku ada yang suka sama kamu."
"Hmm? Siapa?"
"Pokoknya dia orangnya kalem, pendiem."
"Haha si Adli ya?"
"Yee, bukan. Pokoknya ada deh!"
"Dendy?"
"Eeehh..."
Di situ Santi semakin yakin kalo temen sekelasnya bernama Dendy Pradana Migunanto suka sama dia. Gw makin ‘down’ gara-gara si Rizal ngomong gituan sama dia. Terus besok gimana pas sekolah? Muka gw mau di tarok dimana? Astaga...
Rupanya gak seserem yang gw bayangin. Dia tetep anggep gw sebagai temen dia, walaupun dugaan gw dia pura-pura gak tahu. Temen-temennya juga ikut pura-pura gak tahu gitu. Yah, gw tetep ngerasa gak enak aja sama dia kalo di kelas.
Beberapa hari kemudian gw tahu Santi suka sama cowok yang seangkatan sama gw. Gw kaget dan stress berat. Hati ini mau pecah (Udah belom den?). Gw langsung 'down' gitu. Gw mikirnya dia tahu kalo gw suka dia, tapi dia pura-pura gak tahu dan cuek aja. Menandakan seolah-olah dia gak mau sama anak SD yang udah punya bulu kaki kaya gw.
Gak lama setelahnya ternyata bener, Santi jadian sama yang cowok yang dia sukain. Ya ampun, sedih banget gw, kenapa juga gw harus suka sama dia. Gw tahan perasaan gw yang sakit itu sampe akhirnya gw SMP. Terus gw liat papan pengumuman di SMP gw waktu itu. Gw kaget, "Loh? Kok!?". Tahu gak? Gw sekelas lagi! Anjrit!
Gw marah-marah sendiri, ngedumel sendiri. Tiga tahun berturut-turut sekeLas!? Rizal bilang ke gw, "Sabar Den, aku tahu ini cobaan buat kamu", gw jawab aja, "Iya Zal, gak papa kok, masa gak mama."
Beberapa hari kemudian ada kabar baik. Dia putus sama pacarnya! Horeee! Gw gak tahu mau seneng atau tetep mau seneng, tapi gw mikirnya dia tetep gak bakal suka sama gw. Kenapa? Bukan karena bulu kaki gw gak kelihatan lagi(SMP gw cowoknya udah boleh pake celana panjang biru), tapi karena gw udah tumbuh kumis kaya lele.
Kemudian gw dapet kabar dari Rizal. Rupanya temen Rizal (cewek) ada yang suka sama gw. Sebut aja namanya Fitri. Gw jadi males gitu. Gw berharap Fitri itu adalah Santi. Gw kepengennya Santi yang suka sama gw bukan Fitri. Tapi akhirnya gw sadar, perasaan ‘males’ gw ke Fitri sama dengan perasaan Santi ke gw saat itu. Jadi, gw belajar gimana caranya supaya gw tetep deketin Santi tapi gak ngecewain Fitri. Aduh...
Lama-lama akhirnya Fitri tahu juga kalo gw itu sukanya sama Santi. Gw kok tiba-tiba jadi gak enak gitu sama dia. Pengen deketin Fitri ntar disangka suka, pengen jauhin sama aja kaya Santi ngejauhin gw. Serba salah jadinya. Terus Rizal ngomong ke gw, “Den, kamu gak tahu ya? Si Tari juga kayanya suka sama kamu deh.”
Tari (Nama samaran) adalah temen sekelas gw saat itu. Gw selama di kelas juga ngerasa kaya dia suka sama gw, tapi gw gak mau ke GR’an gitu, kan belum pasti. Eh, rupanya beneran.
Waktu itu kebetulan gw lagi jalan di lorong sekolah dan gw ngeliat Fitri sama Santi ngobrol berdua. Gw lihatin mereka, mereka lihatin gw dengan tatapan tajam. Gw kabur.
Ternyata Fitri sama Santi temen baik. Fitri cerita ke Santi kalo dia suka gw dan Santi juga ngerasa bersalah karena yang disukain gw itu Santi bukan Fitri. Si Tari juga rupanya temen mereka dan Tari pun tahu kalo gw suka Santi. Gak cuma mereka bertiga, 1 angkatan akhirnya tahu gw suka Santi! Taelah...
Gw kesel. Gw marah. Gak mau suka sama cewek lagi, kapok. Gw putusin merubah sikap gw jadi dingin. Gw cuek sama semua orang. Kebetulan bokap gw pensiun pas gw kelas 2SMP nanti, yang berarti gw harus pindah rumah juga dari situ. Jadi, pikir gw, “Ngapain gw mikirin masalah kaya gini sih? Ntar juga gak bakalan ketemu mereka!”
Semakin dekat dengan kepergian gw. Gw ngerasa dapet sinyal HP secara tiba-tiba. Gaklah, gw dapet sinyal dari Santi. Bukan sinyal karena dia suka gw, tapi cuma sinyal yang menyatakan bahwa sesungguhnya dia gak pernah bermaksud buat ngejauhin gw selama ini. Gw nangkep banget makdsudnya itu. Ya, mau gimana lagi. Gw emang orangnya pemalu sama cewek waktu itu.
Tiba hari dimana gw pergi dari kota kecil namun indah. Temen-temen gw banyak yang datang untuk ngucapin salam perpisahan sama gw, tapi Santi gak datang. Gw ngerasa bersyukur pernah punya temen-temen baik di sana.
Gw naik pesawat juga. Sebelum pesawat take off, gw berharap dan berdoa supaya gw bisa ketemu temen-temen gw lagi. Gw ngeliat ke kaca pesawat, temen-temen gw masih setia nunggu di airport sampe pesawat gw tinggal landas. Tapi, tetep gw gak lihat ada Santi. Yaudah, gak apa-apa juga, toh gw gak suka dia lagi.
Tepat saat pesawat take off, gw bingung. Kenapa air mata gw keluar deras ya?